Minggu, 11 Juli 2010

Dusun Bambangan (2006, 2007, 2008)

oleh : ya' ludin amna

Dusun kecil nan jauh di sana
penuh kenangan yang menjadi lamunan
jauh dari bising metropolitan
sejuk dalam pesona kerukunan

dusun kecil nan jauh disana
dikaki gunung besar pulau jawa
sebagai tempat awal perjuangan
mencapai sebuah kedamaian

dusun kecil nan jauh disana
dengan sunrise di ufuk timur sana
dengan sindoro-sumbing, penghias kesempurnaanya
dan dengan awan-awan pekat, dibawah kaki-kaki kuat kita

kau adalah saksi
akan solidnya sebuah kebersamaan
untuk mencapai cita-cita
dalam perjalanan yang begitu panjang

engkau bernama bambangan
gerbang awal pijakan pendakian
menuju puncak kedamaian
dengan ransel-ransel berat ini
yang akan menjadi sebuah kenangan.....

Merbabu (2006)

oleh : ya' ludin amna

ini hanya basa-basi kenangan lalu
dahulu, ketika kita bangga dengan putih abu-abu
bermodal ego dan semangat yang menggebu-gebu
kita semua bersatu padu
dalam sebuah perjalanan panjang
menggapai puncak merbabu

menapaki tanah merbabu
ahh...
itu mungkin hanya kenangan usang masa lalu
yang hampir terlupakan
tetapi . . .
aku masih mengingat itu

padang eidelweiss dengan parfum wewangiannya
monyet-monyet liar dengan celotehan tak karuannya
konser burung hutan yang penuh harmoni alam
semuanya masih terekam jelas
dalam memori akal sehatku

merbabu,
kau kenangan,
bersama sahabat-sahabat terbaikku
dalam nuansa putih abu-abu..
yang tak sekedar semu
ingin rasanya mengulang tradisi itu
ketika semuanya bersatu padu....

....

Masih Sama

oleh : ya' ludin amna

sahabat,
kau masih sama seperti yang lalu
meski lama kita tlah berbeda tempat
kau tidak banyak berubah
dengan tingkah dan segala laku mu itu

kau sekarang tlah berpakaian
sangat rapi sekali. . . . . .
dengan seragam kebesaranmu
dengan sepatu yang mengkilapmu itu
bangga aku melihat pribadimu
sedangkan aku???
sampai sekarang, aku masih telanjang bulat
dengan almamater lusuh ini

namun
atributmu yang rapi itu
sepatumu yang mengkilap itu
masih saja tidak membuatmu berubah
tidak membuat jarak antara kita
dan tidak juga menjadi tembok pembatas kau dan aku
kau masih sama seperti yang terdahulu
tanpa sekat
dan
tanpa sebuah kesombongan yang semu

Selasa, 06 Juli 2010

K.A GAYA BARU MALAM (GBM), KERETA RAKYAT YANG PENUH SESAK DENGAN RAKYAT


GBM atau Gaya Baru Malam, mungkin nama tersebut akan terasa takkan pernah asing bagi mereka yang pernah memakai jasa transportasi Kereta Api kawasan Pulau Jawa ini. Kereta Api kasta terendah dalam jasa transportasi perkeretapian ini merupakan kereta api Ekonomi dengan rute perjalanan yang cukup panjang dan dapat dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau, sehingga tak heran bila GBM menjadi tranportasi yang paling banyak diminati oleh banyak masyarakat, dan tentunya kebanyakan penikmat KA GBM sebagian besar dari kalangan masyarakat kelas menengah dan masyarakat lapis bawah. Hanya dengan merogoh kocek sekitar 35 ribuan kita bisa berkeliling ria menggunakan kereta ini dari awal pemberangkatan di barat pulau jawa yaitu Kota Jakarta sampai berakhr di ujung timur kota metropolitan terbesar ke dua di pulau jawa yaitu Surabaya. Rute perjalanan yang cukup panjang dengan melewati beberapa provinsi berbeda di pulau jawa, yaitu provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.
Harga murah, mungkin itu salah satu faktor yang membuat KA ini menjadi favorit di kalangan masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Murah dibandingkan menggunakan KA Bisnis atau Eksekutif yang harganya jauh sangat lebih mahal dan berkali-kali lipat. Tidak peduli fasilitas atau keamanan yang menjamin, yang terpenting murah dan selamat sampai tujuan. Merasa nyaman dan tidak nyaman menjadi urusan belakangan, yang penting dapat naik dan selamat sampai tujuan. Tidak mendapat tempat duduk adalah hal wajar dalam KA GBM, pedagang asongan yang mondar-mandir adalah sesuatu yang lumrah dalam KA GBM, saling berebut dan berdesakan masuk ketika akan naik merupakan hal biasa KA GBM, dan ada orang yang tidur di toilet kereta juga merupakan hal yang normal dalam KA GBM.
Penuh sesak ketika liburan dan penuh sesak pula ketika hari biasa. Tidak terlalu berbeda jauh. Beruntung bila kita mendapatkan tempat duduk, kita bisa agak sedikit lebih nyaman, mesti masih ditemani dengan kesumpekan dan kesemrawutan keadaan sekitar, karena dipenuhi penumpang lain. Hal ter-tidak nyaman naik kereta ini adalah ketika anda harus berdiri berjam-jam karena tidak mendapat tempat duduk, dan anda harus bersiap-siaplah untuk bersenggolan badan dan melenturkan badan anda ketika beraneka macam pedagang asongan lewat untuk menjajakan barang daganganya. Toilet kereta juga di alih fungsikan oleh penumpang kereta (bila penuh sesak), saking penuhnya penumpang yang naik, maka toilet pun di jadikan tempat untuk duduk dan bahkan ada yang tidur pula. Wangi bau keringat penumpang dan harum bau kaos kaki yang jarang dicuci kadang akan bisa dinikmati dalam perjalanan kereta ini.
Pedagang asongan kereta bagai penumpang ke dua di kereta ini, di samping penumpang regular yang membayar tiket. layaknya sebuah pasar, pedagang asongan kereta akan mondar-mandir di gerbong kereta untuk menawarkan barang daganganya, tak peduli seberapa penuh sesak penumpang yang ada dalam kereta, yang terpenting bagi pedagang asongan ini adalah laku, laku, dan laku barang yang mereka tawarkan. Bisa kita jumpai beraneka ragam pedagang asongan, dari mulai yang jualan anak-anak sampai nenek-nenek yang sudah “sepuh”. Barang dagangan yang di jual masing-masing pedagang asongan di KA GBM tidak kalah lengkap dibandingkan penjual di pasar malem. Dari yang jual Makanan (nasi bungkus, pecel, roti, camilan), minuman, rokok, baju, boneka, mainan anak-anak, alat-alat tulis, bahkan penjual baterai Hand phone juga bisa kita jumpai. Yang membuat berbeda dengan pasar malem hanya pada letak penjual dan pembelinya, jika di pasar malem penjual yang duduk kemudian pembeli yang mondar mandir di depan lapak jualannya, namun bila di kereta GBM, pembeli yang duduk di kursinya (bila dapat kursi) sendiri, sementara penjual yang berkeliling untuk menawarkan barang dagangannya.
GBM mungkin kereta api yang direkomendasikan pemerintah untuk rakyat kelas ekonomi menengah ke bawah. Kereta api rakyat yang di dalamnya akan penuh sesak dengan rakyat pula. Segala elemen masyarakat kelas bawah dengan beraneka macam profesi akan kita temukan disini. Cukup menyenangkan bila kita menikmati kesumpekan dan kesemrawutan kereta api ini dengan hati yang sabar dan berlapang dada. Dapat bertegur sapa dengan penumpang lain, adalah moment terindah, bila dibandingkan dengan kesombongan yang sering diperlihatkan kaum-kaum borjuis. Tanpa ada sekat-sekat status social dan tanpa ada gengsi yang terkadang banyak di jumpai di kalangan elite masyarakat kita juga. Sehingga membuat kita mendapatkan pelajaran yang berharga tentang arti toleransi dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Minggu, 04 Juli 2010

PEREMPUAN SENIMAN JALANAN PANTURA


Dengan wajah yang penuh keringat dan terlihat make-up yang kelihatan sudah mulai luntur di rona wajahnya. Perempuan tengah baya itu naik ke dalam bus yang saya tumpangi. Bus Si**r Ja*a jurusan purwokerto-bekasi. Disambut dengan ucapan selamat datang berupa celotehan kecil oleh kernet bus dan ditambah sedikit candaan genit dari supir yang sedang mengemudi, perempuan itu pun masuk ke dalam bus. “Ramah”, itulah kesan pertama saya melihat perempuan tersebut. Ramah menanggapi celotehan kernet bus, ramah menggubris canda yang dilantunkan sopir bus, dan ramah dalam membawa diri di dalam bus. Berbekal tape recorder yang berukuran besar lengkap dengan speaker dan microphone. Perempuan tadi membuka pembicaraan di depan semua penumpang dengan nada bicara yang ramah.
Perempuan ini adalah salah satu dari “seniman jalanan” pantura yang ada di kawasan jalan pantura-indramayu. Base camp atau tempat mereka berkumpul adalah di depan sekitar rumah makan pada di daerah indramayu (saya lupa nama tempatnya). Perempuan-perempuan ini sepanjang mata saya melihat, kebanyakan berumur mungkin sekitar 35-40 tahunan dan ada beberapa yang di bawah 30 tahunan tapi sedikit jumlahnya. Jika ada bus yang akan keluar dari rumah makan tersebut, maka para perempuan tadi dengan membawa tape recordernya (kelihatannya agak berat juga) akan masuk ke dalam bus yang keluar dari rumah makan. Tidak begitu tahu latar belakang mengapa mereka menjadi “seniman jalanan” seperti ini,
Ketika perkenalannya di dalam bus, mereka menyebut dirinya dengan dengan kata “seniman jalanan pantura”, bukan , maaf “pengamen”. Sulit untukku membedakan antara kedua kata tersebut (pengamen vs seniman jalanan), karena yang saya tahu, ketika ada orang yang menyayikan lagu (biasnya di bus) dan kemudian meminta upah atau sumbangan walaupun tanpa paksaan kepada orang di sekitarnya, kebanyakan orang menyebutnya dengan kata maaf sekali lagi, “pengamen”. Namun apalah arti perbedaan kata-kata di atas, jika memang memiliki makna yang sama.
Lagu-lagu yang di bawakan mereka adalah lagu-lagu dangdut populer jaman doelo dan lagu-lagu cirebonan. Biasanya mereka menyanyikan 2-3 lagu. Setelah selesai menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan. Perempuan ini akan mengeluarkan sebuah “bungkus permen” yang masih kosong. Bungkus permen yang dijadikan wadah yang ditujukkan kepada para penumpang bus untuk menaruh uang jika mereka akan memberi uang itu kepada perempuan “seniman jalanan” itu. Dan memang sangat “ramah” plus disertai senyum sopan yang tergambar, mereka tidak cemberut ataupun murung ketika ada penumpang bus yang tidak memberi uang kepada mereka. Setelah semuanya selesai tak lupa perempuan tersebut memberikan salam dan meminta maaf telah mengganggu perjalanannya, lalu kemudian turun dari bus untuk berpindah di bus yang lain.
Kadang terlintas dibenak ku rasa ingin tahu mengapa mereka bisa memilih pekerjaan seperti ini dan tidak berusaha untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi, tidak ada waktu untukku untuk hanya sekedar ngobrol-ngobrol kecil dengan mereka, sehingga bisa menghapus rasa keingintahuanku ini. Karena memang saya hanya numpang lewat saja di kawasan pantura ini. Untuk para seniman jalanan pantura……….selamat berjuang menempuh kehidupan yang memang tidak selalu berpihak kepada kita..!!!!

Sabtu, 03 Juli 2010

RAMAINYA MALAM MINGGUan di ALUN-ALUN PURWOKERTO


23 mei 2010
Minggu pagi, jam 08.55 WIB,
Di Kosan – ditemani alunan simpony melody golden love memory
..

“Malam minggu yang serasa sangat sepi”, mungkin itulah kata yang pas dan cukup menggambarkan keadaan saya dan beberapa teman saya pada malam minggu tadi malam (22 mei 2010). Kadang malam minggu dimaknai sebagai sebuah tradisi bagi para kawula muda untuk menghabiskan waktu malam minggunya bersama teman spesialnya (pacar) atau gebetannya untuk sekedar berjalan-jalan atau mungkin hangout bareng. Namun, itu tidak berlaku bagi saya dan teman-teman saya, status yang melekat saat ini sebagai seorang “jomblo” rupanya yang membuat kami untuk tidak mengadakan ritual malam minggu bersama gebetan ataupun pacar seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang mempunyai pasangan.
Tidak ada acara yang special bersama orang yang special, tidak ada acara untuk bertandang ke tempat pacar, dan tidak ada acara untuk sekedar bermesraan dengan “sang kekasih”. Saya dan beberapa teman saya memutuskan untuk membunuh waktu malam minggu ini dengan acara ber hang out menikmati indahnya malam minggu di alun-alun purwokerto.
Berangkat pukul 19.20 WIB dari kosan yang mungkin berjarak kurang lebih 4 Km dengan lokasi yang dituju (Alun-alun purwokerto) kami menggunakan sepeda motor untuk sampai kesana. Lima belas menit kemudian sampailah kami tiba di alun-alun purwokerto. Pukul 19. 40 kami tiba disana dan memarkirkan kendaraan di minimarket al**mart yang memang terletak disekitar sebelah barat alun-alun purwokerto dan berada satu deret dengan masjid agung purwokerto.
Melihat pemandangan yang ada ketika saya melihat alun-alun purwokerto tadi malam dan bila diucapkan dengan kata-kata, mungkin saya akan berkata “ramene pool” (bahasa orang banyumas-an) atau “rame nemen” (bahasa pemalang-an). Luas alun-alun yang mungkin kurang lebih seukuran lapangan sepak bola, di dalamnya telah dipenuhi dengan lautan manusia yang sedang melakukan berbagai macam aktivitas. Lama saya tidak datang ke alun-alun ini, dan baru tadi malam (malam minggu) saya kembali datang dan itu pun di ajak oleh teman saya untuk pergi ke alun-alun ini, ya… untuk sekedar menghabiskan waktu sebagai seorang ‘jomblo” bersama beberapa teman.
Kaget dan mungkin terheran-heran melihat keadaan alun-alun yang sungguh sangat-sangat ramai sekali dipenuhi manusia. Dimulai dengan, keadaan didalam Minimarket al**mart terlihat antrian para pembeli dari mulai ibu-ibu sampai para pasangan ABG yang mengantri, kemungkinan mereka membeli makanan dan minuman untuk menemani mereka menikmati malam minggu di sekitar alun-alun purwokerto. Dan tempat parkir minimarket tersebut juga dipenuhi kendaraan roda dua yang terlihat penuh sesak, karena memang tempat parkir yang lain (depan kantor pemda banyumas dll) sudah agak penuh juga, setelah memarkir kendaraan kemudian salah satu teman saya juga membeli makanan dan minuman pula untuk menemani hangout kami di alun-alun purwokerto (cukup lama menunggu teman saya berjuang untuk membeli makanan kecil dan beberapa softdrink di al**mart).
Kami duduk disebelah selatan alun-alun. ditemani keramaian orang-orang yang memang sangat ramai dan penuh dengan keadaan yang riang gembira (bila dilihat dari raut wajahnya). terlihat bermacam-macam aktivitas yang mereka lakukan untuk mengisi akhir pekan malam minggu ini. Banyak sekali anak-anak kecil dengan membawa tingkah dan polahnya berlari-lari kesana kemari sembari menikmati keramaian alun-alun ini, pasangan muda-mudi dengan tawa dan candanya sambil menikmati makanan kecil yang mereka bawa, dan seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua, bapak-bapak dan ibu-ibu yang senantiasa mengawasi anak-anaknya yang berlarian-kesana-kemari yang diselingi juga dengan mengenang masa-masa pacarannya waktu dulu, dan tak ketinggalan pula terlihat kakek-nenek yang menikmati lanjut usianya dengan rona bahagia. Semuanya melakukan aktivitas yang beranekaragam sambil menikmati malam minggu ini dan menjadi satu bagian dalam keramaian kota purwokerto pada malam itu.
Alun-alun purwokerto memang nyaman dan cukup terjaga kebersihannya. Rumput yang ada ditengah-tengah alun-alun ini kelihatannya memang dirawat oleh Pemerintah Daerah Banyumas dan semoga akan tetap terawat terus, rumputnya sangat berbeda dengan rumput yang biasa, namun bila kita melihat dari kejauhan alun-alun purwokerto ini, rumputnya terlihat seperti sebuah lapangan stadion internasional (menurut persepsiku,hhehehehe), Televisi raksasa terpasang di pojok timur alun-alun yang kadang menayangkan pertandingan sepak bola di akhir pekan dan menjadi hiburan tersendiri bagi para masyarakat purwokerto yang menikmati malam minggunya di alun-alun ini, tidak adanya pedagang kaki lima yang saya lihat di sekitar alun-alun ini menambah daya tarik akan keteraturannya dan juga tidak terkesan “semrawut”, bila ada mungkin hanya pedagang keliling yang menjual jajanan kecil yang jumlahnya tidak terlalu banyak, dan ditambah dengan adanya alunan tembang-tembang jawa yang diperdengarkan melalui speaker-speaker yang sudah di taruh permanen di tempat-tempat strategis sekitar alun-alun, menambah nyaman telinga kita ketika mendengarnya. Dan juga ada beberapa restoran atau tempat makan dari yang biasa hingga Highclass yang ada di sekitar alun-alun dan dapat dicapai dengan berjalan kaki saja.
Tak terasa setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan temen-temen, Jam telah menunjukkan pukul 21.10 WIB, terlihat di sekitar alun-alun masih cukup ramai dengan orang-orang yang engan beranjak untuk pulang, namun keadaannya tidak seramai ketika saya baru datang kesini yaitu sekitar pukul 19.30an. saya dan beberapa temen saya memutuskan untuk mengakhir malam minggu ini dengan beranjak pergi meninggalkan alun-alaun purwokerto dan pulang kembali ke kosan untuk menantikan final champiom inter vs bayer munchen yang akan digelar nanti malam…………

Para Peminta-minta di kawasan kampus FISIP Unsoed, Mirisss!!


Sudah tiga tahun, aku melakukan proses pembelajaran di kampus orange ini. Sebutan lain untuk Fakultas ilmu social dan ilmu politik (FISIP) Unsoed. Kampus FISIP UNSOED yang kental dengan retorika-retorika para mahasiswanya dalam sebuah organisasi, pekat dengan nilai-nilai social yang di ajarkan, tajam dengan kritikan-kritikan pedasnya, dan satu lagi, kampus ini “halal” untuk dimasuki oleh siapapun mulai dari anak eS eM Pe yang mondar mandir lewat, mahasiswa, dosen, pegawai, pedagang makanan kecil gendongan, para pengemis/peminta-minta yang selalu saja ada, bahkan “maling motor” pun boleh masuk kampus ini (sungguh kampus yang humanis). Semuanya berbaur menjadi satu di kampus orange ini. Keadaan social penghuninya tiga tahun yang lalu, tak banyak berubah dengan sekarang. Wajah dosen-dosen yang masih sama seperti yang dulu, wajah pegawai-pegawai pelayanan administrasi yang masih sama sepeti dulu, wajah-wajah pedagang di sekeliling kampus yang sama seperti dulu, dan wajah para “peminta-minta”/ Maaf “pengemis” di kawasan kampus yang sama seperti tiga tahun yang lalu.
Bila wajah-wajah dosen masih sama seperti tiga tahun yang lalu, mungkin itu wajar, jika wajah para pegawai pelayanan administrasi masih sama seperti yang dulu, itu juga normal dan wajar dan bila wajah dari pedagang-pedagang di kawasan kampus masih sama seperti yang dulu, itu juga sangat wajar buat saya. Namun bila wajah para “peminta-minta”/ pengemis itu masih sama seperi yang dulu, bagi saya pribadi itu tidaklah begitu wajar. Sungguh tidak wajar dan memang seharusnya tidak seperti itu.
Peminta-minta atau pengemis yang ada di kawasan FISIP UNSOED rupanya telah menjadi bagian integral dari dinamika kampus. Mereka bagaikan menjadi bagian dari sendi-dendi kehidupan di dunia kampus fisip unsoed walaupun tidak secara langsung dan terpisahkan. Ketika kuliah telah usai atau mungkin ada mahasiswa yang sedang nongkrong menunggu perkuliahan tiba, maka pengemis itu kemudian dengan tangan atau biasanya dengan gelas palstik bekas air mineral, mereka meminta-minta kepada mahasiswa yang dijumpainya di sekitar lingkungan kampus. Tidak ada yang salah, ketika kita yang notabene lebih mampu untuk memberikan sedikit bantuan kepada yang membutuhkan. Membantu orang-orang yang terlantar dan teraniaya sudah barang tentu menjadi kewajiban kita sebagai sesama umat tuhan. Apalagi para peminta-minta seperti itu, dengan kondisi umur yang sudah lanjut usia, mereka memang harus kita bantu dan perhatikan. Saya pribadi sepakat dengan nilai-nilai seperti itu, membantu sesama, menolong yang teraniaya, atau kegiatan social lainnya. sekali lagi saya sepakat dengan hal-hal social seperti itu.
Namun akan berbeda persoalnnya ketika memang yang diberi pertolongan setiap saat itu (peminta-minta) tidak mau untuk memperbaiki kehidupan mereka. Para peminta-minta itu kelihatannya nyaman akan statusnya sebagai seorang “pengemis”. Tiga tahun yang lalu sampai dengan sekarang, sejak saya di OSPEK sampai sekarang pernah ngOSPEK, wajah para peminta-minta itu tidak berubah ataupun berganti lakon dengan tokoh lain. Mereka orang-orang yang sama dengan tiga tahun yang lalu ketika saya di OSPEK oleh kakak angkatan. Dan sekarang wajah-wajah peminta-minta itu masih saja sama seperti yang dulu.
Masih teringat dalam ingatan saya. Ketika tahun pertama saya kuliah di kampus orange ini. Saya kadang memberi sedikit uang saku saya kepada mereka yang meminta-minta. Lambat laun, ternyata orang yang saya kasih tersebut masih saja tetap meminta-minta seperti itu sampai sekarang dan tidak berubah ataupun beralih profesi, menjadi pedagang-kah, buruh tani-kah, atau pekerjaan yang lain yang lebih mulia daripada seorang “maaf” pengemis. Mereka (Peminta-minta) sepertinya sangat nyaman dan PW dengan statusnya, dan mungkin merupakan sebuah profesi yang dia lakukan. Dengan mengemis uang yang didapat tidak perlu bersusah-susah buang keringat dan banting tulang, cukup dengan menguatkan mental dan tidak punya rasa malu. Bukan karena kondisi terdesak yang kemudian menjadikan mereka terpaksa sebagai seorang pengemis.
Saya sependapat jika mengemis itu dilakukan karena terpaksa oleh keadaan dan jalan terakhir. Saya sependapat jika mengemis itu dilakukan karena tersesak kebutuhan yang amat urgen dan itu alternative terakhir. Saya juga sependapat jika meminta-minta itu hak setiap orang di muka bumi ini dan itu hak tiap-tiap orang. Dan saya juga sangat-sangat sepakat jika kawan-kawan ingin membantu bila ada pengemis yang Maaf beribu-ribu maaf cacat secara lahiriyah, mereka wajib di bantu dan diberi pertolongan oleh kita yang mampu.
Namun saya SANGAT TIDAK sependapat dan sangat tidak sepakat jika mengemis itu merupakan profesi dan dilakukan terus menerus tanpa mereka mau untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Sedangkan kondisi fisiknya masih sehat dan kuat, tanpa mengalami keadaan yang tidak diinginkan.

”Batik Pekalongan”, Wow . . !!!


..Kota batik di pekalongan

Bukan jogja bukan solo . . . . .

Sepenggal lirik lagu di atas adalah lirik dari lagu slank yang berjudul SBY atau social betawi yoi. Lirik lagu di atas menjelaskan dan menguatkan bahwa memang kota batik terletak di kota pekalongan, bukan di kota jogja atau pun kota solo. Meskipun kedua kota tersebut dapat dikatakan sebagai gudang dan pusatnya batik khususnya pulau jawa. Tidak tahu apa yang menjadi dasar, slank menulis lirik seperti itu. Namun tetap saja, dari pendapat slank yang di tuangkan melalui lirik tersebut mengatakan bahwa kota batik ya di pekalongan bukan jogja atau solo.

Batik memang sudah menjadi icon ataupun identitas kebudayaan yang sangat begitu kental bagi bangsa kita. bagaimana tidak, batik yang sudah dikenal sejak nenek moyang kita terdahulu. Ternyata masih bisa bertahan ditengah derasnya pengaruh trend budaya kebarat-baratan yang terus mempengaruhi budaya kita. Dengan adanya batik, kita bangga bahwa bangsa kita mempunyai budaya yang dapat dibanggakan. Berbicara tentang batik pekalongan, saya punya cerita yang mungkin ini menjadi pengalaman yang lucu dan membuat saya kagum juga dengan batik pekalongan. Ada dua buah cerita dalam tempat yang berbeda namun dengan satu tema yang sama yaitu tentang “batik pekalongan”.

Ada dua cerita dalam tempat yang berbeda, akan tetapi masih ada hubungannya dengan batik pekalongan. Cerita pertama, bermula ketika teman kos saya akan pergi ke jogja karena ada urusan yang harus diselesaikan di kota gudeg tersebut. Dan kebetulan pada waktu itu, saya belum punya batik dari jogja (batik jogja), maka ketika teman saya itu akan pergi ke jogja. saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk nitip dibelikan batik jogja. singkat cerita, teman kos saya itu sudah pulang dari jogja. Dia juga tidak lupa dengan titipan saya yaitu batik jogja yang kemarin saya pesan. Dengan hati yang senang karena titipan saya (batik jogja) telah dibawakannya, saya langsung melihat batik tersebut. Sebelumnya teman saya bilang bahwa dia membeli batik ini, di kawasan malioboro. Ketika saya lihat merk dan buatan (made in) mana tenyata batik tersebut bertuliskan “batik pekalongan”, bukan bertuliskan “batik jogja” seperti yang saya harapkan. sontak saya heran dan tertawa dalam hati, mengapa “batik pekalongan” yang dibeli oleh teman saya bukan batik jogja. bila mau beli batik pekalongan, tidak usah jauh-jauh ke jogja ataupun nitip teman saya yang akan ke jogja. karena saya orang pemalang (jateng), kota saya pemalang bersebelahan dan jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan kota pekalongan sehingga untuk beli batik pekalongan tidak terlalu sulit bagi warga pemalang untuk membeli batik pekalongan. Dan bukannya jauh-jauh ke jogja ternyata batik pekalongan yang di dapat.

Cerita tentang batik pekalongan yang dibeli teman saya di kota jogja adalah cerita yang pertama. Cerita yang kedua tentang batik pekalongan bukan lagi di kota jogja, namun kali ini berpindah cerita ke lain tempat yakni di pulau dewata atau pulau bali. Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti study tour ke bali yang di adakan oleh kampus saya. Ketika itu kami (rombongan study tour) menginap pada sebuah hotel di kawasan sanur. Kami menginap dua malam di hotel tersebut, pada saat itu hotel tersebut tidak hanya kedatangan tamu dari rombongan saya saja, akan tetapi ada beberapa SMP atau SMP (saya kurang begitu tahu) yang juga menginap di hotel tersebut. Sehingga hotel tersebut ramai dengan orang dan area parkir hotel yang tidak terlalu luas juga telah dipenuhi oleh bus-bus pariwisata yang kami tumpangi. Tidak tahu mendapat kabar angin dari mana, pada malam pertama kami menginap di hotel tersebut. Ternyata diluar pelataran hotel yang kami diami. Sudah ada beberapa pedagang yang menjual aneka souvenir dan bermacam-macam baju dan tentunya dengan harga murah dengan catatan asal kita bisa menawar. Saya pun tertarik untuk sekedar melihat-lihat hasil dagangan yang di tawarkan oleh pedagang-pedagang itu, bila dilihat dari logat berbicarnya mereka merupakan penduduk asli dari pulau ini ( pulau bali). Dan ketika saya melihat batik yang juga ditawarkan oleh pedagang bali itu, mulanya terlintas di benak saya, bahwa mungkin batik itu adalah batik asli bali (walaupun saya tidak terlalu tahu, apakah bali juga punya batik sendiri). Dan ketika saya melihat lebih dekat dan kemudian memegang batik itu. Tercetak dengan jelas bahwa batik yang saya pegang tersebut bertuliskan “batik pekalongan”!!. Dua kali ini saya dikagetkan dengan “batik pekalongan”. Di pulau dewata ini ternyata batik pekalongan juga dapat kita jumpai. Heran dan hanya bisa tertawa kecil dalam batin saja.

Kedua kisah tentang batik pekalongan di atas menjadi pengalaman yang membuat saya terkadang tertawa sendiri. Sungguh sangat populer dan melalangbuananya batik pekalongan ini. Dari mulai tenar di rumah sendiri (pekalongan) ternyata tenar juga di kota gudeg (mungkin juga kota-kota lain) dan bahkan sampai juga menjamah hingga sampai pulau dewata bali. Sangat apresiasi dan mengangkat kedua jempol tangan saya untuk batik pekalongan yang memang sudah melanglangbuana ke berbagai tempat!!!!.